"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Sunday, June 2, 2013

Solid Two



May I covering your lips with mine?
Since the rain is falling so hard,
and kissing you is one of my favorite part.

Though the skies are bleak
I wish to breach your eyes a sneak
just to realise, that without you, I am vulnerable and weak.

I hug you from behind,
to offer you a sweet line:
"That everything in love will be just going fine."

Scare for nothing
Stare me without any single blink
Hold your breath for a song to sing

Shalala dubidubidu...
Truly said my senorita, together we are meant to be a solid two!


June 02nd, 2013, Medan

Tuesday, March 12, 2013

The Script of Love Life



Explain your sadness to me earlier
and I'll save you from more falling tears

Whenever your heart is mourning
you just have to look at another way for cheering
May I be the first man to lead you in?

O, a man is supposed to be a safety wall
strong and easy to call
Because a breaking heart
sometimes could be too light to fall

Never regret
for I will offer you a stretch
Set your burden free
to feel again that you love me

Love does somehow teach you toughness
rather than beautifulness
Just like two faces that reflect less fears
swept by miracles

When the best care remains
a perfect love gained


March 12th, 2013, Medan

Saturday, November 10, 2012

Sajak Miris



Sebab air mata adalah setetes larutan kesedihan...

Siapa berkenan memeluk lelaki yang terluka
yang gagal tabah oleh serangkaian jerih payah jiwa?

Malam yang tawar, merona langit dalam wujud nanar.
Untuk apa luka berkelakar, jika sesayup pun urung kau dengar?

Maka tangis adalah reruntuhan akhir dari kesedihan
tepat ketika kau mangkir, dan aku tinggal kenangan.


Medan, 10 November 2012

Friday, October 26, 2012

Pada Sunyi yang Beranjak



Seperti apakah sunyi yang berkaca pada kalbu yang kelabu?
Seperti serpihan batin yang terbaca sebagai gurat-gurat buntu

Sunyi: adakah seperti suara yang jera pada keramaian luka?

Aku telah matang mencentang cinta di hati kekasih
jauh dari ketenaran dusta dan dalih yang mencipta rasa sedih

Aku rela berikhtiar di antara getar dan getir
seiring raut senja beranjak memar dan sunyi benar-benar mangkir

Biarlah waktu dan kecupan detik
pelan-pelan membiasakan cinta siaga pada yang pelik

Kelak aku bersatu denganmu
selebihnya tinggal suam-suam sendu
tahu-tahu berlalu
Betapa yang sementara, sungguh tak perlu ada dalam ragu


Medan, 26 Oktober 2012

Friday, September 21, 2012

Sajak Hujan untuk Kekasihku



Langit sedang gelisah, kekasih. Disiarkannya hujan melampaui permukaan malam, bersama pelintir petir dan kelojot kilat yang berselisih kodrat kandungan dukanya.”

*

Sungguh,
di tengah rintik hujan yang kian berlinang
aku pun rindu dikepung oleh pelukanmu yang matang
wahai kekasih yang tersayang

Pelukanmu menawar kesejukan batin yang ditinggalkan ampas hujan
serta sisa-sisa cahaya kilat yang berkejang-kejang

Basuhlah genangan air di hatiku yang lunta
agar hatiku tak lumat disambar radang waktu yang fana.

Raut cintaku. Parut rinduku.
Akan kau lihat, semuanya berisi ingatan teguh tentang kembang-mekar senyummu

(Hujan mengguyur danau dan lautan)
Aku telanjur mencintaimu melampaui batas kenyataan dan kenangan!


Medan, pada penghujung gerimis senja, 21 September 2012