"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Friday, October 27, 2006

Trilogi Sajak Cincin

/1/

telah kita saksikan perjamuan purnama menjelma buku-buku belenggu
serupa hujan kepada kemarau, dan pekat manis madu
jua tambur mainan dua hati yang mengadu-ngadu
betapa serindai dunia sendiri dengan empat sisi kelambu
menghapus sedu senja, menebar daun hijau muda
sedang kita terus bertukar cerita tua
karena pada ruang yang berharum tubuhmu dan tubuhku
tiada lagi derai tirai mencerai antara kalbu
segala membuka untuk saling menyelam dan meredam
sejak itu merdulah siul jiwa, dalam menutup kelam

dan selalu, setiap menyingkap rusuk-sukma
ada persalinan putih yang menambah jantung di dada
tentang kisah pagi, tentang gelak anak di kanan-kiri
tentang tegar yang tak sesingkat sungai mati
hingga sejarah akan berani berkata
belenggu bukan rasa gelap penjara
membuat malam sama sepi-hambar-buta
rindu ini hanya ingin jatuh pada curam matamu
sambil menanti kembang seraut wajahmu bergambar haru-laut biru

o, kekasih putihku, kekasih satu semesta
kini kita satu lagu atas telapak cinta
sama-sama membahasakan mimpi dan semua yang mati
supaya dalam jarak jejak sampai ke marak jingga di puncak
hidup dapat menyala-nyala oleh guratan bernada
bernada saja. bernada di mana masa masih ada
sebab pada cincin cinta punya seribu nyawa


/2/

pengembaraan mana tak pernah menemu murka
bila bumi dan langit lebih perkasa
hingga kayu-bangun perahu harus lebih dulu patah sebelum layarnya

lagi waktu yang begitu deras untuk sebuah persekutuan panas
adakah, adakah kita sudah berpeluk-cumbu puas

namun tahu, purnama juga empunya gerhana
semua pasti pergi dan tiba pada terang rona-cahaya
maka terbanglah kita jangan larut pada kabut
selama nadimu masih menyanyikan nadiku
satu langkah kepada neraka, kusebut bulat cincin
pada kita: ombak semakin menyibak, api semakin melembak


/3/

kau dan aku,
            adalah buah simpulan zaman
            sampai sunyi dengkur rembulan
            letup-padam satu lipatan


Medan, 27 Oktober 2006


(kupersembahkan trilogi sajak ini buat kekasih putihku kelak)

* puisi pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 12 November 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com