"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Tuesday, August 28, 2007

Rahasia Surga


cinta tidak pernah bersisian dengan perbatasan
atau kelelapan sunyi pedalaman
kau telah menikahi takdirku
maka gerbong hari akan berkecak pada derajat baru
di laut-wajah lain—bukan wajahku
di binar mata pingin—bukan rayuku

lekatlah padaku dan dekap pakai mabuk
supaya kau tahu dalam pelukan kita
surga tidak berjarak terlalu muluk
di sini, di tempat ini satu saja:
            surga berada di tengah-tengah
            antara perempuan dan pria


TII, 28 Agustus 2007


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 07 Oktober 2007

Monday, April 23, 2007

Alfa dan Omega

: Lyl'c

kala musim gugur selalu turun—dari tubuhmu
tiada yang lebih kelam dari pilu waktu itu
serupa maha-angkara laut, layar jiwa dikoyakkan begitu beringas
menderas tangis ke titik paling keras
selalu hampir-hampir senja
tetap malam tak pernah purna
puspa ini terus terjaga
meski sempat berlepasan beberapa kelopaknya

kuat, sekuat pada setia dan satu
setiap melihat kenyataanmu tumbuh tambah tinggi batang puspaku
bagaikan sorak sekumpulan malaikat sedang menari
berserak pinta di daerah hidupmu yang manis
menghamba-hamba, mengeja seratus kali kalimat menggapai-gapai :
“jembatankan aku ke dia, telah kupersiapkan benteng”

tapi cuma hati yang hidup dan terus menghidupkan
kau berada di seberang perbatasan
tanpa menoleh padaku walau sedikit
yang terus memantaumu seperti bulan lengket di langit
maka serasa dari dunia amat jauh
dengan sepasang pandang sembunyi kau kurengkuh
dan melodi tangis diam-diam
sampai tahun-tahun berubah kaku
kau tambah berjarak dari gemerlap rinduku

semua peristiwa masih terasa begitu kasar
mengerat, mengarat jua mengadu tegar:
adakah selembar gugur kelopakku jatuh di landasanmu
pernahkah secara tipis saja mekar padamu puspa serupa puspaku

kini kecerahan mulai kembali kepada kita
namun aku tetap bertanya-tanya
apa kau masih tetap menitikkan gugur lewat sayapmu
dan aku hanya mengepak-ngepakkan kematian di bawah cakarmu

namun kudedahkan padamu, puspaku puspa setua zaman
batangku batang sepanjang jalan
sungguhpun akarnya akan putus oleh waktu
dalamnya tetap mengalir air wajahmu
sebab kau benih pertama
telah tergaris jelas kau untuk kekagumanku
maka pada alfa dan omega
tetap kau bertempat di atas kerajaan hatiku


TII, 23 April 2007 – 22.56 WIB


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 September 2007

Wednesday, March 28, 2007

Hakikat Cinta


tiada warna yang mampu bergabung melukis cinta
atau bentuk, dan segala alam
sebab ia adalah udara yang dihela
hangat dari hati yang membara

cinta bukan untuk memenangi kata-kata
atau ciuman di pipi kiri
cinta selalu melepas tubuh
hidup dari kalbu

menetas tanpa suara
lahir tidak terlihat oleh mata
cinta hidup seperti wujud angin yang sederhana
namun terasa


Medan, 28 Maret 2007


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi, Harian Analisa (Medan), tanggal 11 Juli 2007

Saturday, March 10, 2007

Cinta Putih


aku ingin seperti merak tanpa ekor namun tetap bahagia
bercintaan dengan tiada sesuatu di mata
kudapat hangat tanpa memimpikan bara

jikapun padaku bermekaran garis-garis luka
pikirkan itu darah tidak menjadi lukisan tangan
atau panas semarak matahari
tetapi sebagai sungai yang ceria
mengantar debur padamu tanpa melalui jembatan

cinta ini semudah lurus saja pantai kepada laut
cukup perkasa sang kabar yang tersebut
aku menginginkanmu dengan tiada gula-bunga yang tampak di akhir jemput


TII, 10 Maret 2007


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 28 Oktober 2007