"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Friday, October 2, 2009

Bertemu Kelepak Surga

Teruntuk: Agustina Tampubolon SPsi

waktu—selalu berlari di luar dari mimpi
kala senja, pada senda tiada lagi nyawa
malam kembali melagukan sendawa tua
berkepanjangan!
laut utara sampai selatan, tambah gunung timur dan barat
tinggal sendiri lagi sepi, berkawan kata-kata

gerbang semakin panjang, melintang serupa padang
ke mana langkah angin, ke situ derap dingin
menggeletar!
terbayang elok sekelok sosok bidadari
punah di balik gaun nan duri-peri

ah… senyum itu masih ada, katamu!
di dunia lain, kau dewi bertangan seribu
tatapmu menembus ke relung gedung-gedung sibuk
merayu-lipur, sampai hilang jejak-jejak lumpur

o… tina
bukankah sungai adalah juga cinta
tempat hulu dan hilir saling puja saling manja
ada cerita tentang sayap-sayap patah
kau buat kenang, kenang atas nama air mata
sesungguhnya padamu cinta sedang bergundah untuk cinta
demi dia—makhluk gereja
yang melembak-lembak dalam setiap jerjak doamu

di stasiun terakhir
dalam samar wajah-watak
datang juga mimpi kelepak masa lalu
menjamu namamu
mengukur tubuhmu
menyusup bayangmu
hulu dan hilir bersenyawa jadi satu
dalam bahasa rindu!

meski pada waktu masih menggenang mimpi di pedalaman
kau telah menjawab kering sunyimu
dengan gerimis manis
segala terlahir kembali, pekat padat bunyi ruyi*
di pucuk-pucuk sukmamu

jangan kau ragu pada dedetak di perjalanan
jadikan kelepak pokok yang tegas
tempat bermekaran buah-buah dedah
di sini, di rumah terakhir
setiap cerita tentang muara rasa
kau buat kenang, kenang ke seluruh daratan dan lautan
kenang terus kelepak sayang
atas nama surga!

Aku menjaga…


CMD, 02 Oktober 2009 – 16.45 WIB


* ruyi (bahasa Cina) artinya sesuai keinginan. Pada zaman dinasti Cina, ruyi adalah anugerah dari Kaisar kepada Permaisuri maupun selir-selir terpilihnya dalam bentuk sebuah tongkat bertabur perhiasan yang melambangkan kemegahan dan kemakmuran hidup. Orang-orang Cina sering menggunakan kata ruyi sebagai penutup doa dengan harapan agar seluruh doa dapat terkabul sesuai keinginan.

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com