"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Monday, April 23, 2007

Alfa dan Omega

: Lyl'c

kala musim gugur selalu turun—dari tubuhmu
tiada yang lebih kelam dari pilu waktu itu
serupa maha-angkara laut, layar jiwa dikoyakkan begitu beringas
menderas tangis ke titik paling keras
selalu hampir-hampir senja
tetap malam tak pernah purna
puspa ini terus terjaga
meski sempat berlepasan beberapa kelopaknya

kuat, sekuat pada setia dan satu
setiap melihat kenyataanmu tumbuh tambah tinggi batang puspaku
bagaikan sorak sekumpulan malaikat sedang menari
berserak pinta di daerah hidupmu yang manis
menghamba-hamba, mengeja seratus kali kalimat menggapai-gapai :
“jembatankan aku ke dia, telah kupersiapkan benteng”

tapi cuma hati yang hidup dan terus menghidupkan
kau berada di seberang perbatasan
tanpa menoleh padaku walau sedikit
yang terus memantaumu seperti bulan lengket di langit
maka serasa dari dunia amat jauh
dengan sepasang pandang sembunyi kau kurengkuh
dan melodi tangis diam-diam
sampai tahun-tahun berubah kaku
kau tambah berjarak dari gemerlap rinduku

semua peristiwa masih terasa begitu kasar
mengerat, mengarat jua mengadu tegar:
adakah selembar gugur kelopakku jatuh di landasanmu
pernahkah secara tipis saja mekar padamu puspa serupa puspaku

kini kecerahan mulai kembali kepada kita
namun aku tetap bertanya-tanya
apa kau masih tetap menitikkan gugur lewat sayapmu
dan aku hanya mengepak-ngepakkan kematian di bawah cakarmu

namun kudedahkan padamu, puspaku puspa setua zaman
batangku batang sepanjang jalan
sungguhpun akarnya akan putus oleh waktu
dalamnya tetap mengalir air wajahmu
sebab kau benih pertama
telah tergaris jelas kau untuk kekagumanku
maka pada alfa dan omega
tetap kau bertempat di atas kerajaan hatiku


TII, 23 April 2007 – 22.56 WIB


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 September 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com