"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Tuesday, October 12, 2010

Sebuah Monolog /2/


bagaimanakah kabarnya di sana
jika baik saja, adakah dia sempat mengulang bayangku
walau barang sejenak

di suatu dermaga, aku sedang membela sunyi
menunggu sorot terang yang syukur-syukur bisa melipur
melarikan esok hari

sementara aku terus terpaku
seperti bulan yang sedang mengikat malam


CMD, 12 Oktober 2010


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 Januari 2011

Monday, October 4, 2010

Aku dan Perempuan /2/



layaknya burung yang jauh dari dedesing
aku ingin setenang masa kecilku
berguling saja walau tak penting
meski dengan luka muda di siku

sesekali sepi memang mesti membatasi janji
agar perempuan tetap tertulis di pucuk mimpi
sebagaimana mereka tidak pernah sungguh-sungguh menerjemahkan lelaki

aku dan perempuan adalah sepasang luka yang berlainan
sampai nanti di muara waktu
akan ada alasan untuk sebuah pertemuan
sehangat kamar haru, ruang di mana perempuan lebih suci dari kelakar rindu

Aku yang tahu...


CMD, 04 Oktober 2010


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 Oktober 2011

Saturday, October 2, 2010

Aku dan Perempuan /1/


aku berpikir-pikir tentang maksud perempuan menasbihkan jerejak
pelik-lirik itu terkadang seperti riak yang menyeruak
bersama kata-kata pecandu
menggadiskan gelak-bahak demi mengelabui rindu
berkali-kali, hingga lelaki telat menafsirkan pilu
karena salah bercinta dengan riwayat palsu

pejantan yang sesenggukan
bukan lagi sebuah kisah segan
sebab siapa gerangan yang mampu melarang
gerimis yang suka tiba-tiba lantang di belakang kenang

aku lelah menggambar perempuan
kukira cantik-lentik itu
sama dengan beribu pesan
menikung juga ke dadamu

di antara huruf-huruf namaku
tiada lagi kutanda barang sebuah wajah
selama rahasia masih berkisar antara doa dan rayu
perempuan tetap adalah sejarah yang basah

Aku melangkah...


CMD, 02 Oktober 2010


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 Oktober 2011

Monday, September 27, 2010

Sebuah Monolog /1/


rasa ini masih persis sama
serumit bait selamat malam yang lindap
tanpa berita
bisik-bisik tua menjadi kelebihan makna
sampai hujan menghabiskan dinginnya
dia tetap berada di tengah-tengah rahasia

ketahuilah,
aku sedang menunggak sebuah rindu
di luar kata-kata


CMD, 27 September 2010


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 Januari 2011

Saturday, August 21, 2010

Lelaki yang Mencinta dengan Diam


Dialah lelaki yang semula mencinta dengan diam, bersama sepasang mata yang menelungkup pada lintang bibirmu. Bayang itu sempat jadi dendang, melagukan sekumpulan sorak tentang perempuan terakhir. Tanda merah dari musim yang akan datang, yang gugur kemudian. Sebab matanya tak pernah mampu membaca berandamu, yang terus teguh merangkum ragu.

Masih juga dia sebut kau puitis, ketika pagi itu kau turun dengan terusan putih. Memanjang pada kolom kamarnya. Tapi kau malah begitu tegas berpaling, sambil menggeleng geli. seolah-olah sajak yang dia tulis keliru membiaskan lautmu.

Dialah lelaki yang sedang kelam. terkapar pada ketunggalan rindu yang mendahului pagi dan mencampuri malam. Banyak derap yang pengap, lindap pada geletar nanar, sejak tiada lagi jalan buat berpelukan. Tinggal mimpi-mimpi jenaka, yang tak kunjung dewasa menyusui leluka.

Dialah lelaki yang mencinta dengan terdiam, namun layak dan dalam. Dia telah coba seribu paham. meringkas kenyataan setiap kau pulang sebelum dedah berkembang. Sayang bimbang itu tetap saja meradang. Setegar-tegarnya binar menjaga kelar juga, tersesat sampai di pedalaman angan. Ah, di kubang kenang yang tak tercapai oleh kelelakian!


CMD, 21 Agustus 2010