"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Saturday, August 21, 2010

Lelaki yang Mencinta dengan Diam


Dialah lelaki yang semula mencinta dengan diam, bersama sepasang mata yang menelungkup pada lintang bibirmu. Bayang itu sempat jadi dendang, melagukan sekumpulan sorak tentang perempuan terakhir. Tanda merah dari musim yang akan datang, yang gugur kemudian. Sebab matanya tak pernah mampu membaca berandamu, yang terus teguh merangkum ragu.

Masih juga dia sebut kau puitis, ketika pagi itu kau turun dengan terusan putih. Memanjang pada kolom kamarnya. Tapi kau malah begitu tegas berpaling, sambil menggeleng geli. seolah-olah sajak yang dia tulis keliru membiaskan lautmu.

Dialah lelaki yang sedang kelam. terkapar pada ketunggalan rindu yang mendahului pagi dan mencampuri malam. Banyak derap yang pengap, lindap pada geletar nanar, sejak tiada lagi jalan buat berpelukan. Tinggal mimpi-mimpi jenaka, yang tak kunjung dewasa menyusui leluka.

Dialah lelaki yang mencinta dengan terdiam, namun layak dan dalam. Dia telah coba seribu paham. meringkas kenyataan setiap kau pulang sebelum dedah berkembang. Sayang bimbang itu tetap saja meradang. Setegar-tegarnya binar menjaga kelar juga, tersesat sampai di pedalaman angan. Ah, di kubang kenang yang tak tercapai oleh kelelakian!


CMD, 21 Agustus 2010

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com