"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Saturday, November 10, 2012

Sajak Miris



Sebab air mata adalah setetes larutan kesedihan...

Siapa berkenan memeluk lelaki yang terluka
yang gagal tabah oleh serangkaian jerih payah jiwa?

Malam yang tawar, merona langit dalam wujud nanar.
Untuk apa luka berkelakar, jika sesayup pun urung kau dengar?

Maka tangis adalah reruntuhan akhir dari kesedihan
tepat ketika kau mangkir, dan aku tinggal kenangan.


Medan, 10 November 2012

Friday, October 26, 2012

Pada Sunyi yang Beranjak



Seperti apakah sunyi yang berkaca pada kalbu yang kelabu?
Seperti serpihan batin yang terbaca sebagai gurat-gurat buntu

Sunyi: adakah seperti suara yang jera pada keramaian luka?

Aku telah matang mencentang cinta di hati kekasih
jauh dari ketenaran dusta dan dalih yang mencipta rasa sedih

Aku rela berikhtiar di antara getar dan getir
seiring raut senja beranjak memar dan sunyi benar-benar mangkir

Biarlah waktu dan kecupan detik
pelan-pelan membiasakan cinta siaga pada yang pelik

Kelak aku bersatu denganmu
selebihnya tinggal suam-suam sendu
tahu-tahu berlalu
Betapa yang sementara, sungguh tak perlu ada dalam ragu


Medan, 26 Oktober 2012

Friday, September 21, 2012

Sajak Hujan untuk Kekasihku



Langit sedang gelisah, kekasih. Disiarkannya hujan melampaui permukaan malam, bersama pelintir petir dan kelojot kilat yang berselisih kodrat kandungan dukanya.”

*

Sungguh,
di tengah rintik hujan yang kian berlinang
aku pun rindu dikepung oleh pelukanmu yang matang
wahai kekasih yang tersayang

Pelukanmu menawar kesejukan batin yang ditinggalkan ampas hujan
serta sisa-sisa cahaya kilat yang berkejang-kejang

Basuhlah genangan air di hatiku yang lunta
agar hatiku tak lumat disambar radang waktu yang fana.

Raut cintaku. Parut rinduku.
Akan kau lihat, semuanya berisi ingatan teguh tentang kembang-mekar senyummu

(Hujan mengguyur danau dan lautan)
Aku telanjur mencintaimu melampaui batas kenyataan dan kenangan!


Medan, pada penghujung gerimis senja, 21 September 2012

Thursday, September 6, 2012

Puisi yang Kutulis di Hadapan Kekasih



Biarkan aku berpuisi di tepi rajutan hatimu, kekasih
selama angin melintang dan aku bersemi sebagai lelaki pemintal kenang

Puisi adalah hasrat inti yang melantunkan nada-nada gelagat jiwa
yang merdu dan meneduhkan kolam-kolam penghayat rahasia

Puisiku harum semerbak mengungkap rona makna
yang menuntunmu sadar betapa aku tulus merangkap kekasih dan pengisah cinta.
Ayatnya sesyahdu bintang subuh tiap kaurengkuh
rimanya selentik kisi-kisi gerimis melangkahi kemayaan derita

Timang majasnya, juga gurat diksinya
Akan kautemukan ricik bunyi berdecap-decap di tengah telaga kata

Kekasih tabah sesuci curahan puisi
yang kian ke dasar kian sabar membersit denting-denting perindang mimpi

Segala gelut desah akan menuju bekal abadi
jauh di luar batas kurun seni:
menyisihkan yang sunyi
mengusulkan yang sejati


Medan, 06 September 2012

Monday, September 3, 2012

Simfoni Kencan untuk Kekasih



Adalah degup kemudaan yang bersanding ingin di tubuh kekasih, aku siap merintang hidup ke mana peluh dan penat kelak bernaung merampingkan pedih.

Marilah kekasih, kita berboncengan menyerpih malam, menyepuh pernak-pernak embun yang mendinginkan kenangan.

Kita akan berkencan di antara keriap kunang-kunang, di bawah bencah cahaya dan sedekap bayang-bayang.

Indahnya berangkulan denganmu di altar angan, saat benih angin bersisiran dan cahaya bulan bersulaman di pendiangan awang-awang.

Aku gemar mengecupmu kala bening keningmu berkaca-kaca, betapa kau bergelut manja tiap kurayu lewat sesirat tembang dan sajak jingga.

Di sana kisah dan makna tegar berkerumun tak kenal gerun, pertanda jalan masih setia dan santun dalam lindungan tahun.

Telah kita singkap sepi, kita pukau kerlingan hati. Tiada yang melepuh dalam hasrat, tiada yang kunjung tamat di rembang hakikat.

Biarkan, hingga orang-orang jenuh menyabari alam, dan kita tetap teguh digandrungi diam-diam.

Memandangmu adalah kemujuran yang jumawa bagai berkah tuangan surga. Aku kerap takjub dirindangi rindu yang bersisipan dengan cinta.

Pejamkanlah lesung matamu, kekasih, maka kau akan kulingkari kalung dan terik cincin, lintang gelang dan buah anting.

Kecantikanmu kini tak terpadankan kata-kata, keabadianmu tak terbesut kerapuhan waktu dan kelugasan usia.

Takdir kita beruntaian di jemari angin-angin, kita saling merestui karena jiwa kita telah saling pilin.

Sebab cinta kita tulus meratakan keluh-kesah. Kita kerap belajar dari sandi-petuah luka, hingga kita matang menjelma bakat kasih yang sempurna.


Medan, 03 September 2012

Wednesday, August 15, 2012

The Woman I Pursue is not My Wife



The woman I pursue is not my wife
Like dews fall on fallow wold
glazed by the coldest oath

Maybe it was the most ruthful song of nightingale
wandering the unfailing tier of your trail
No flaring eyes, no welcoming stars
except the weeping moon which beaten to the scars

Ah, its shivering hour, leaving a painful dirt
Who should be responsible, if love was backfired
and summoned by ruthless hurt?

One day, I shall vanish into emptiness,
somewhere you can never rue me anymore.
Even in the falling petals, harden sea,
or dreary fickle rain.

As life is earthen
and the loudest din will shatter to silence
Thence love is a loosen purpose
like greenness of garland fading into pieces
And soundless heart that dissolved deep inside the deserted shaft
had wrenched my pity dying half

O, my dying half!
Wherefore does a forlorn soul still winged and waft?


August 15th, 2012, Medan

Tuesday, August 7, 2012

Solilokui Kenangan



Ada jalan yang kusebut namanya kenangan
sebab muaranya buntu
di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu

Rintihan khayal itu, yang kausangka puisi, lebih liat dari pelepah sunyi
Bagai rima bayang-bayang yang bersangsian
piuh tak terpantau pagar-pagar kenang

Tiada kau tunjuk pada sesiapa, yang laik dilalui cinta
ketika kaumangu aku lewat rupa, menggugu dalam fana

Aku hanya ingin membencimu seperti gerhana koma
antara redup dan ampas cahaya
agar kenangan tak kunjung mengentaskan kekentalan lukanya

Kenangan, kutahu, serupa peradaban yang separuh-tak-separuh purna
tempat beragam ragu dan gerim gusar
ditumpatkan sampai ke seluk-inti peredaran nalar

Adakah yang lebih sederhana dari wujud lelaki, kekasih?
Selain pada kenangan, betik benaknya ditaksir telah jadi remah-remah letih

Kelak, jika luka telah moksa
restuilah kenangan!
menjelma penegar bangkai-bangkai tempiasan waktu

Aku bukan lagi lelaki kecil yang dapat seadanya patuh
diperam amuk ruap rindu


Medan, 07 Agustus 2012

Saturday, August 4, 2012

Rhapsody of Love

: for my dearest shiny bride


The first of my life anthem, is to sing you my lovelorn soul
Linger upon the flawless wind
glint and gleam

For a man’s sake of an early glance, blinking at you dear
flaming inside shady eyes, by and by
Nature-force behind, growing along with the mood
amongst the spirit and sight, you are absolutely cute!

Lure me, sweetheart. Lure me.
Let me spring into your heartstring and spread my ink
before the dusk aging, and the road has been shrinking

Set a longitude between your fairy arms
And I’ll seed my farm under the curly sun
The breeze urges for emotions, sincere grin

Longing waft till hard afar, the earnest night seems wistfully and flat
O, my jumping heart, what a misty mad

Don’t bother to wan, yet chin up toward the sky-hung.
As I pour you a little soft kiss onto the forehead
and tear the sleek darkness away
Braving from within, leap through thick and thin, we were exactly found
For a true love donates, while a fake love counts.

And in the remaining path in the doorway, sweetheart
may bliss shed over us, tender lay withal
Though time flows and jammed, somehow we’ll blend
As my vow to keep sprouting upon you
straight to the noble end

I am stately
your man!


August 04th, 2012, Medan

Saturday, March 24, 2012

Di Lau Kawar Dua Kisah Masih Menghampar



            tidak sekarang tentu…

kau cukup kukenang
lewat lintang danau yang pukang
dan anggrek rawa yang kuterawang

kuserap kelopak letih, sisi poros putik yang pasi
serta setangkup atap lapak tenda pengungsi
yang paling mengerti kerucut jeri seorang lelaki

ruam malam masih mengincar suar bulan yang sepadan
meski bulatnya setengah cacat, tercebur arakan awan
pertanda kerawanan diri, dirundung ruh yang seliweran

mengapa sungguh jauh lau kawar
dari kesiur detar seremoni kisah yang menghampar?

sepasang senda-tawa bebas
melintas dengan eros yang deras
menggetas erosi hati yang kandas
ini bias segara yang walau beranjak tua
tapi tak jua-jua berasa
pupur kabut mengucur kian maya, semakin tanpa tanda

lebih baik kusaji saja doa, merapal kapal tiba
sebelum fajar yang bengal, gagal menggubah gairah jadi geriap pesona
menuju cinta yang mendunia

jika nanti—di hisapan hening—dapat kau sadap suara belingsatan lengking
ceraplah, itu celetuk jantungku, sedang menggarap kicau pancing
agar kau, kujemput dalam pukau
kuberai serupa musa di teberau
menjelma tubuh baru
lebam lama pun berlalu

            tidak sekarang tentu…


Lau Kawar, 24 Maret 2012

Monday, March 12, 2012

Selamat Ulang Tahun

: kepada Yang


inilah dia,
lelaki dengan mata pemancar warna-warni cinta
padanya kata-kata diputihkan, dan raut bunyi diteduhkan
hingga puisi tiba melapangkan makna
indah jadi salinan alam, akal dan angan saling bertali-berpegangan

            Yang,

lihatlah, dua puluh empat tahun yang beruntun
berapa kali tingkah musim bertukar antara samar dan lamun
seperti juga liuk jakun yang gemar naik-turun
lelaki butuh jalan
agar masa mudanya yang kurang bermain—terkurung desir angin
dapat pelan-pelan terperinci
memancang teluk hati, dan jeluk janji yang berkandung darah dan nyali

            Yang,

tinggalkan saja, tempurung luka telangkup tak membuka
sebab nanti juga terlupakan, hanyut dalam larutan laut yang berbusa
kendati hidup sukar dilacak, dan jalan sudah berupaya
mimpi tidak serta-merta jadi, lalu bergeretak di gigimu
ia adalah rasa yang dirakit, bangkit dari jeritan, bahkan kobaran korban
baru waktu, dan berbagai kulai sendu
pulih dari pertikaian zaman
mengusap kau yang keringatan, hangat terjerang ingatan yang jelalatan

            Yang,

kenanglah, kenangkan lagi dua puluh empat tahun yang berembun
bukankah telah kau tanak dengan tekun, lewat tenun jejari yang rimbun?
pada saatnya, ketika masa sudah tepat dan pasti sepakat
akan ada isyarat nyata yang menyala, dari gadis jelita bermata bola
menjaga tema doa, serta pekur rindu yang riaknya patut dipercaya
dengan pola pikir yang santun, dan bulir cinta yang berkerumun

selamat ulang tahun

            Yang,

jadilah lelaki tetaplah lelaki, yang jarak hatinya tinggi
seperti gejala kata-kata
sederhana namun bertenaga
            : pasang tidak berkabut, surut tidak berlumut
kecuali denyut, yang terus merebut hidup dari sengkarut lutut
demi nanti
pijakan hari yang tak gentar berpijar maupun bersaksi
tentang syarat: buah pengasih hayat istri
serta hakikat: bekal tanggul penangkar rumah bakti


Niro, 27 Februari – 12 Maret 2012


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 01 April 2012

Thursday, March 1, 2012

Puisi tentang Hari Jadi




/1/

Aku terlahir dengan sederhana,
maka aku ada.


/2/

Aku berpikir sejak asal mula,
maka aku nyata.


/3/

Aku bersyair dalam kata-kata,
maka aku jadi makna.

Medan, 27 Oktober 2006

Saturday, February 4, 2012

Postulat Cinta /1/


cinta adalah sebuah gejala
yang kau tak sempat mencegahnya berbunga
ia memang tidak pandai bicara
tapi maknanya berwibawa
bukti janji yang sederhana, harga jiwa yang dewasa

jika cinta telah mekar merah di mata
jagalah mimpi sebanding dengan rasa
lewat tingkah yang tekun, dan perilaku yang rela
agar kau paham, surga jauh karena memang ia tidak biasa

jika malam tak lagi mampu ceria
kau tak perlu tergesa-gesa membetulkan cinta
karena cinta adalah parasut yang terbuka
selamat mendarat tidak meluka

jangan kesal pada cinta yang gagal
serupa gerhana, gelap sebentar adalah wajar
semua yang bersembunyi dan yang belum jadi akan sama-sama tertinggal
berganti kejut dan kelakar yang terpelajar

cinta yang benar betah untuk mendengar
tentang rasa tentang rahasia tentang sesal yang sia-sia
selama hidup tegar bersandar
berlebih dan berkurang bukan asal perkara
puja dan manja hanya sementara
begitu pula kata-kata sebenarnya tidak bertenaga
selain keramahan hati, yang sudi untuk saling berbagi
satu mimpi berkawan sampai mati


Medan, 04 Februari 2012

Thursday, January 19, 2012

Kepada Kau yang Akan Datang

teruntuk perempuanku, ibu dari Cellyne Dearyheart Tandri


aku masih menunggu, pada sabar yang sebentar-sebentar ragu
sambil belajar tegar, aku menyusun kembali pecahan mimpi yang sempat berpendar
satu demi satu, demi kau yang akan datang
perempuan yang memang sesungguh-sungguhnya benar dalam bersayang
kucoba melukis kau pelan-pelan, di balik geram yang terus penasaran
biar nanti sebagaimana kau tampak begitu juga kau berkesan
dan waktu yang selalu teliti
tidak salah mengenal antara yang suci dan yang tiri

semestinya aku tidak lagi menjadi seorang pemalu
di atas usia, dan ruang-jarak yang kupunya
aku nyata dikelilingi rahasia sampai beribu lapis ribu
jadi sepi mana, luka apa pula, layak buat menggertak jiwa?

rasa pasti akan berangsur-angsur dewasa
menakar mana sandiwara mana nyata
kalau luka adalah pasti, lalu untuk apa kita mesti berhitung soal siapa
dari mana luka berasal dan ke mana pula luka berada?
bukankah kelak kita juga akan jadi orang tua
saling berbuah kisah, mati berbagi nyawa?

sampai kau datang nanti, lihatlah sepuas-luasnya mata
kita telah punya sebuah istana, tambah taman kecil seadanya
juga kereta motor tempat kita pernah merambat-rambat di jalan kota
debu kecil saja, gerah sudah biasa, dan hujan juga bukan apa-apa
sebab kita telah sedemikian rela untuk tidak saling meminta
terlebih-lebih lagi untuk saling menahan dalam perih-pedih peristiwa
maka kelak ruang mana pun antara kita pasti bergula-bunga
kita dapat menjelma kupu-kupu beterbangan
berduaan, berlipatan menuju lafal pelaminan

kisah-kisah sedan di kamarku
juga air mata yang segan kuceritakan itu
adalah sebuah harga seberapa kita akhirnya dipertemukan oleh rerinduan waktu
jika kau tiba-tiba berasa kelu, dan lidahmu butuh tempat mengadu
ada aku yang akan selalu mendukung di balik murungmu
apalagi kita bukanlah kekanak lugu
yang masih bermain pada bebaris puja-manja
kita telah saling mencari tahu kapan boleh mesra, kapan untuk bekerja
kita juga telah setuju bahwa tangis dan tawa berasa sama saja
meski hidup berbahan kayu dan bara
meski kencan bertukar rayu dan kata

selama kita bangga
hati-menghubung-hati tidak lagi berbeda
tentang arti perasaan dan kenangan
melampaui segala basa-basi dan laba-rugi hubungan
kita bahkan akan sama-sama lebih lagi pengertian
jika kelak anak telah membagi kita rata dalam berpasangan
lalu orang-orang, dari kerabat sampai yang setengah-setengah dekat pun akan paham
lelaki seperti apa yang betul-betul mencatat kisah tentang perjuangan
cinta mencari kehidupan!


Niro, 19 Januari 2012


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 29 April 2012

Lelaki yang Berada Antara Waktu dan Rahasia



dia lalu berada kembali
tetap sebagai lelaki, tapi dengan wajah yang kini lain
juga langkah yang mendingin, berjarak setapak-setapak saja sejauh apa dia ingin

dia mulai jenuh menjadi lelaki yang terlalu mudah merasa
waktu hanya seperti angin yang sementara
sehabis menipu semudah itu pula pergi
sementara dia belum sempat berpaling ke mana-mana
sudah tersesat lagi

kini dia mengerti, dan berkali-kali lipat lebihnya dia hati-hati
pada usia yang baru-baru mulai tinggi
ada beratus-ratus mimpi masih berjaga
bertanya pada rahasia: siapa lagi berani peduli, kalau bukan satu-satunya dia

hidup pasti meredup, sebagaimana dia akan sakit dan menelungkup
sebelum akhirnya tercengang
bahwa setiap perbatasan adalah begitu dekat
dengan bermacam rasa dan peristiwa

senja itu biarlah menguning dengan sendirinya
sebab tidak ada bedanya terlalu peka dengan berpura-pura buta
kalau ada yang tidak pernah bisa diingat
dan ralat
dari lamunan kanaknya

ah, semua mimpi sama saja, mengarang makna sesuka-sukanya
seperti lelaki itu, yang sudah menganggap dirinya adalah keturunan rahasia
lelaki yang telah dikelabui oleh segala kerut-kecut dunia
termasuk gerimis-manis yang nekat mendusta begitu fana

Lelaki itu aku!


Medan, 19 Januari 2012


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 18 Februari 2012