"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Thursday, January 19, 2012

Kepada Kau yang Akan Datang

teruntuk perempuanku, ibu dari Cellyne Dearyheart Tandri


aku masih menunggu, pada sabar yang sebentar-sebentar ragu
sambil belajar tegar, aku menyusun kembali pecahan mimpi yang sempat berpendar
satu demi satu, demi kau yang akan datang
perempuan yang memang sesungguh-sungguhnya benar dalam bersayang
kucoba melukis kau pelan-pelan, di balik geram yang terus penasaran
biar nanti sebagaimana kau tampak begitu juga kau berkesan
dan waktu yang selalu teliti
tidak salah mengenal antara yang suci dan yang tiri

semestinya aku tidak lagi menjadi seorang pemalu
di atas usia, dan ruang-jarak yang kupunya
aku nyata dikelilingi rahasia sampai beribu lapis ribu
jadi sepi mana, luka apa pula, layak buat menggertak jiwa?

rasa pasti akan berangsur-angsur dewasa
menakar mana sandiwara mana nyata
kalau luka adalah pasti, lalu untuk apa kita mesti berhitung soal siapa
dari mana luka berasal dan ke mana pula luka berada?
bukankah kelak kita juga akan jadi orang tua
saling berbuah kisah, mati berbagi nyawa?

sampai kau datang nanti, lihatlah sepuas-luasnya mata
kita telah punya sebuah istana, tambah taman kecil seadanya
juga kereta motor tempat kita pernah merambat-rambat di jalan kota
debu kecil saja, gerah sudah biasa, dan hujan juga bukan apa-apa
sebab kita telah sedemikian rela untuk tidak saling meminta
terlebih-lebih lagi untuk saling menahan dalam perih-pedih peristiwa
maka kelak ruang mana pun antara kita pasti bergula-bunga
kita dapat menjelma kupu-kupu beterbangan
berduaan, berlipatan menuju lafal pelaminan

kisah-kisah sedan di kamarku
juga air mata yang segan kuceritakan itu
adalah sebuah harga seberapa kita akhirnya dipertemukan oleh rerinduan waktu
jika kau tiba-tiba berasa kelu, dan lidahmu butuh tempat mengadu
ada aku yang akan selalu mendukung di balik murungmu
apalagi kita bukanlah kekanak lugu
yang masih bermain pada bebaris puja-manja
kita telah saling mencari tahu kapan boleh mesra, kapan untuk bekerja
kita juga telah setuju bahwa tangis dan tawa berasa sama saja
meski hidup berbahan kayu dan bara
meski kencan bertukar rayu dan kata

selama kita bangga
hati-menghubung-hati tidak lagi berbeda
tentang arti perasaan dan kenangan
melampaui segala basa-basi dan laba-rugi hubungan
kita bahkan akan sama-sama lebih lagi pengertian
jika kelak anak telah membagi kita rata dalam berpasangan
lalu orang-orang, dari kerabat sampai yang setengah-setengah dekat pun akan paham
lelaki seperti apa yang betul-betul mencatat kisah tentang perjuangan
cinta mencari kehidupan!


Niro, 19 Januari 2012


* puisi ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 29 April 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com