"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Tuesday, August 7, 2012

Solilokui Kenangan



Ada jalan yang kusebut namanya kenangan
sebab muaranya buntu
di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu

Rintihan khayal itu, yang kausangka puisi, lebih liat dari pelepah sunyi
Bagai rima bayang-bayang yang bersangsian
piuh tak terpantau pagar-pagar kenang

Tiada kau tunjuk pada sesiapa, yang laik dilalui cinta
ketika kaumangu aku lewat rupa, menggugu dalam fana

Aku hanya ingin membencimu seperti gerhana koma
antara redup dan ampas cahaya
agar kenangan tak kunjung mengentaskan kekentalan lukanya

Kenangan, kutahu, serupa peradaban yang separuh-tak-separuh purna
tempat beragam ragu dan gerim gusar
ditumpatkan sampai ke seluk-inti peredaran nalar

Adakah yang lebih sederhana dari wujud lelaki, kekasih?
Selain pada kenangan, betik benaknya ditaksir telah jadi remah-remah letih

Kelak, jika luka telah moksa
restuilah kenangan!
menjelma penegar bangkai-bangkai tempiasan waktu

Aku bukan lagi lelaki kecil yang dapat seadanya patuh
diperam amuk ruap rindu


Medan, 07 Agustus 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com