"dengan kata-kata aku merangkum ragu, dengan puisi-puisi aku merancu dalam rindu." — David Tandri

Friday, September 21, 2012

Sajak Hujan untuk Kekasihku



Langit sedang gelisah, kekasih. Disiarkannya hujan melampaui permukaan malam, bersama pelintir petir dan kelojot kilat yang berselisih kodrat kandungan dukanya.”

*

Sungguh,
di tengah rintik hujan yang kian berlinang
aku pun rindu dikepung oleh pelukanmu yang matang
wahai kekasih yang tersayang

Pelukanmu menawar kesejukan batin yang ditinggalkan ampas hujan
serta sisa-sisa cahaya kilat yang berkejang-kejang

Basuhlah genangan air di hatiku yang lunta
agar hatiku tak lumat disambar radang waktu yang fana.

Raut cintaku. Parut rinduku.
Akan kau lihat, semuanya berisi ingatan teguh tentang kembang-mekar senyummu

(Hujan mengguyur danau dan lautan)
Aku telanjur mencintaimu melampaui batas kenyataan dan kenangan!


Medan, pada penghujung gerimis senja, 21 September 2012

Thursday, September 6, 2012

Puisi yang Kutulis di Hadapan Kekasih



Biarkan aku berpuisi di tepi rajutan hatimu, kekasih
selama angin melintang dan aku bersemi sebagai lelaki pemintal kenang

Puisi adalah hasrat inti yang melantunkan nada-nada gelagat jiwa
yang merdu dan meneduhkan kolam-kolam penghayat rahasia

Puisiku harum semerbak mengungkap rona makna
yang menuntunmu sadar betapa aku tulus merangkap kekasih dan pengisah cinta.
Ayatnya sesyahdu bintang subuh tiap kaurengkuh
rimanya selentik kisi-kisi gerimis melangkahi kemayaan derita

Timang majasnya, juga gurat diksinya
Akan kautemukan ricik bunyi berdecap-decap di tengah telaga kata

Kekasih tabah sesuci curahan puisi
yang kian ke dasar kian sabar membersit denting-denting perindang mimpi

Segala gelut desah akan menuju bekal abadi
jauh di luar batas kurun seni:
menyisihkan yang sunyi
mengusulkan yang sejati


Medan, 06 September 2012

Monday, September 3, 2012

Simfoni Kencan untuk Kekasih



Adalah degup kemudaan yang bersanding ingin di tubuh kekasih, aku siap merintang hidup ke mana peluh dan penat kelak bernaung merampingkan pedih.

Marilah kekasih, kita berboncengan menyerpih malam, menyepuh pernak-pernak embun yang mendinginkan kenangan.

Kita akan berkencan di antara keriap kunang-kunang, di bawah bencah cahaya dan sedekap bayang-bayang.

Indahnya berangkulan denganmu di altar angan, saat benih angin bersisiran dan cahaya bulan bersulaman di pendiangan awang-awang.

Aku gemar mengecupmu kala bening keningmu berkaca-kaca, betapa kau bergelut manja tiap kurayu lewat sesirat tembang dan sajak jingga.

Di sana kisah dan makna tegar berkerumun tak kenal gerun, pertanda jalan masih setia dan santun dalam lindungan tahun.

Telah kita singkap sepi, kita pukau kerlingan hati. Tiada yang melepuh dalam hasrat, tiada yang kunjung tamat di rembang hakikat.

Biarkan, hingga orang-orang jenuh menyabari alam, dan kita tetap teguh digandrungi diam-diam.

Memandangmu adalah kemujuran yang jumawa bagai berkah tuangan surga. Aku kerap takjub dirindangi rindu yang bersisipan dengan cinta.

Pejamkanlah lesung matamu, kekasih, maka kau akan kulingkari kalung dan terik cincin, lintang gelang dan buah anting.

Kecantikanmu kini tak terpadankan kata-kata, keabadianmu tak terbesut kerapuhan waktu dan kelugasan usia.

Takdir kita beruntaian di jemari angin-angin, kita saling merestui karena jiwa kita telah saling pilin.

Sebab cinta kita tulus meratakan keluh-kesah. Kita kerap belajar dari sandi-petuah luka, hingga kita matang menjelma bakat kasih yang sempurna.


Medan, 03 September 2012